Selasa, 07 Desember 2010

BAB LIMA, pola - pola hereditas ( ' 3 ' )



Apakah itu?
Sifat baru yang beragam yang muncul pada suatu sel anakan (fenotipe), akibat penggabungan atau pencampuran sifat induk (parental).

Hukum pewarisan/penurunan sifat partikulat (gen)
Penemu               : Gregor Mendel
Menggunakan      : Kacang kapri karena memiliki banyak varietas (karakter) serta dapat melakukan penyerbukannya sendiri.
Kesimpulan          :










HUKUM MENDEL 1 = hukum segregasi
Pemisahan alel – alel secara bebas pada pembentukan gamet diploid menjadi haploid. Contohnya dapat kita pelajari di persilangan Monohibrid.
PERSILANGAN MONOHIBRID: menghasilkan turunan 1 karakter dengan 2 sifat beda.




















Dalam proses segregasi ini, alel yang berisi kromosom homolog (interfase)-> replikasi (meiosis1)-> bersegregasi (meiosis 2 (2n))->  setiap gamet memiliki 1 kromosom haploid (n). Perkawinan monohirid akan selalu menghasilkan keturunan dengan rasio 3 : 1

HUKUM MENDEL 2
Penggabungan bebas setiap alel yang harus disertai terbentuknya gamet. Contohnya dapat kita pelajari di persilangan dihibrid.
PERSILANGAN DIHIBRID: menghasilkan keturunan yang memiliki 2 karakter berlainan.



















Homozigot resesif           = bbkk
Homozigot dominan        = BBKK
Heterozigot                     = BbKk
Perkawinan dihibrid akan selalu menghasilkan keturunan dengan rasio 9 : 3 : 3 : 1

TESTCROSS
Persilangan fenotipe (anakan) 1dengan induk resesifnya. Hal ini dilakukan untuk memisahkan sel yang homozigot dengan sel yang heterozigot. Apabila dalam fenotipe 2 ditemukan hasil 50 : 50, maka sel tersebut bersifat heterozigot. Namun apabila hasil daripada perkawinan 100% sesuai induk awalnya, sel tersebut homozigot.

BACKCROSS
Persilangan fenotipe (anakan) 1 dengan induk dominannya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan analisis suatu sifat genetis (karena akan menhasilkan keturunan Fenotipe 2 yang sama dengan induk awal)

PERSILANGAN RESIPROK
Persilangan ulang dengan jenis yang ditukar. Contoh: F1 = jantan bulat dan betina keriput. Maka persilangan resiproknya adalah jantan keriput dan betina bulat.

Penyimpangan semu  hukum mendel
1. Interaksi antar Alel
 Dominan tidak sempurna
- Alel dominan tidak mampu menutupi alel resesif secara sempurna
- Akibat: Individu emmiliki gen setengah dominan setengah resesif



















Dalam hal ini, tanaman berbunga merah muda muncul karena sifat merah (dominan) tidak dapat menutupi sifat putih (resesif)
- Rasio keturunan yang akan dihasilkan, 1 : 2 : 1


Kodominan
- Gabungan 2 alel yang menghasilkan produk berbeda dengan alel yang tidak saling mempengaruhi.
- Akibat: menghasilkan keturunan yang sama sekali berbeda dengan induk awalnya.



















Dalam hal ini, ayam berbulu blue Andalusia merupakan kodominan dari ayam berbulu hitam yang di silnagkan dengan ayam berbulu putih. Rasio keturunan yang dihasilkan, 1 : 2 : 1

Alel ganda
-   Fenomena adanya 3 atau lebih alel dalam 1 gen dimana biasanya hanya ada 2 alel dalam setiap gen.
- Akibat: menghasilkan lebih banyak variasi alel dan polimorfisme (dalam hal ini, munculnya 2 atau lebih fenotip dalam suatu populasi.)
- Table kelinci (4 alel dlm 1 gen) C -> Cch -> Ch -> c dari kanan ke kiri, semakin resesif sifatnya.

Alel letal
-   Alel yang membuat pertumbuhan karakter bagian tubuh vital terganggu.
-   Akibat: Kematian bagi individu pada stadium embrio awal atau sampai beberapa waktu setelah dilahirkan.
-   Resesif: keturunan homozigot resesif (aabb) akan mati
     Dominan: keturunan homozigot dominan (AbAb) akan mati

2. Interaksi genetik
Atavisme
- Munculnya sifat baru karena interaksi beberapa gen.
- Contoh: jengger ayam.















Dari sini, kita dapat melihat persilangan antara ayam jengger rose dan ayam jengger pea telah menghasilkan keturunan yang baru berupa ayam jengger walnut dan single.
- Rasio keturunan yang dihasilkan 9 : 3 : 3 : 1

Polimeri
- Interaksi antar gen yang bersifat kumulatif atau saling menambahkan.
- Akibat: sifat - sifat baru suatu individu yang mirip dengan sifat induk awalnya terbentuk.
















Hasil persilangan dari biji gandum merah dan putih menghasilkan warna biji gandum yang merah sedang, merah muda.
- Rasio keturunan yang dihasilkan, 15 : 1

Kriptomeri
- Sifat dominan suatu individu yang tersembunyi saat ia berdiri sendiri namun segera muncul saat ia berinteraksi dengan gen dominan lainnya.
- Akibat: Perubahan sifat pada sift anakan yang muncul













persilangan antara bunga merah AAbb (dominan) dengan bunga putih aaBB(dominan) memunculkan sifat dominan yang tersembunyi, yaitu ungu (AaBb).
- Rasio keturunan yang dihasilkan, 9 : 3 : 4

Epistasis dan Hipostasis
Gen yang menghalangi sifat gen lain = epistasis (dominan)
Gen yang dihalangi oleh gen dominan = hipostasis (resesif)

EPISTASIS DOMINAN = gen dengan alel dominan menutupi kerja gen lain.


















Seperti tabel disamping, warna kuning dan hijau labu baru dapat muncul ketikaepistasisnya berbentuk homozigot resesif (pp).

EPISTASIS RESESIF = gen dengan alel homozigot resesif mempengaruhi gen lain.
























EPISTASIS GEN DOMINAN RANGKAP
- Kerja 2 gen dominan atau lebih untuk menghasilkan 1 fenotip tunggal.

















pada tanaman kantong gembala, persilangan 2 gen dominan menghasilkan keturunan yang berbiji segitiga dan resesifnya bulat. Namun apabila biji segitiga dipersilangkan lagi dengan biji bulat, maka hasil keturunan f2nya akan menjadi tanaman segitiga. (15 : 1)

EPISTASIS GEN RESESIF RANGKAP (KOMPLEMENTER)
- Interaksi gen yang saling melengkapi dan bila ada salah satu gen bersifat homozigot resesif (aa) maka pemunculan karakter anakan akan terhalangi maka kedua dari gen harus bersifat dominan.















warna bunga muncul akibat pigmen + enzim pengaktifnya.
- Tidak ada  pigmen = aktifitas enzim tidak tampak
- Tidak ada enzim pengaktif pigmen = warna tidak aktif.
- Fenotipe keturunan 9 : 7

3. TAUTAN DAN PINDAH SILANG
Terjadi karena jumlah gen lebih banyak daripada jumlah kromosom. Kesalahan terjadi pada saat segregesi sel. Sel yang seharusnya memisah secara bebas dan berpasangan dengan alel2 lain, justru malah bertaut dengan alel mereka sendiri. Akibatnya, rekombinasi antara gen – gen di sepasang kromosom. (penelitian oleh: Thomas Hunt Morgan, menggunakan Drosophilia/lalat buah karena paling gampang berkembang biak dan memiliki kromosom paling sedikit yaitu, 3 autosom dan 1 genosom.

Tautan Autosomal
gen – gen di kromosom yang sama, tidak dapat bersegregasi secara bebas dan cenderung diturunkan bersamaan.
Kesimpulan : ditemukan lalat mutan dengan mata putih, brbadan hitam dan sayam vestigial (berkerut).

Tautan Kelamin
Setelah lalat mutan disilangkan dengan lalat normal, hasilnya mengejutkan, fenotipe yang dihasilkan justru dominan mutan dan ini terjadi hanya pada lalat jantan. Lalat betina tidak terpengaruh apa – apa.

PINDAH SILANG
Pertukaran gen suatu kromatid dengan kromatid homolognya.
Akibat: sifat induk parental (A-B  dan a-b)akan membentuk rekombinan pada sifat induk baru (A-b dan a-B).
Pindah silang dapat terjadi pada gen - gen yang tautannya lemah. Tautan lemah didasarkan kepadajarak antar gen (unit peta), semakin dekat semakin kuat dan jauh semakin lemah. Untuk mengetahui nilai unit peta itu sendiri, harus menghitung terlebih dahulu Nps (Nilai pindah silang) dengan rumus,
Nps =   jumlah tipe rekombinan     x 100%
           Jumlah individu seluruhnya

Golongan Darah Manusia

Karakteristik Golongan Darah Sistem ABO







Karakteristik Golongan Darah Sistem MN











Karakteristik Golongan Darah Rh
































PERBAIKAN MUTU GENETIK
1. SELEKSI
Pemilihan dan pemisahan secara manual bibit unggul dan yang tidak.

2. HIBRIDASI (PERSILANGAN)
- Inbreeding: Persilangan dengan satu keluarga
  Tujuan: mendapatkan keturunan yang bergalur murni
- Pure breeding: Persilangan dengan 1 ras yang sama
  Tujuan: mendapatkan keturunan yang homozigot
- Cross breeding: Persilangan dengan 2 ras yang berbeda
   Tujuan: menghasilkan keturunan dengan sifat – sifat baru
- Up breeding: Persilangan dengan jantannya merupakan bibit unggul dan betinanya bukan
   Tujuan: Memperbaiki mutu ternak


3. MUTASI BUATAN
- Radiasi sinar radioaktif
Menghasilkan tanaman yang berumur panen pendek, hasil produksi tinggi dan tahan terhadap serangan hama wereng.
- Perendaman biji dengan senyawa kimia kolkisin
Menghasilkan buah yang besar dan tidak berbiji
    

6 komentar:

  1. Jenny:
    Pada bab ini, saya dapat mempelajari hukum-hukum pewarisan sifat, penyimpangan semu yang terjadi, serta kelainan dan penyakit genetik yang diturunkan oleh induk kepada keturunannya. Melalui bab ini kita dapat mengetahui dan mengerti bagaimana suatu sifat diturunkan dari induk kepada keturunannya, bagaimana seseorang dapat mewariskan golongan darahnya kepada keturunannya, kemungkinan-kemungkinan golongan darah yang dimiliki oleh keturunannya, mengidentifikasi penyakit dan kelainan yang diturunankan secara genetik dari induk. Selain itu kita juga dapat memperbaiki mutu genetik suatu makhluk.

    BalasHapus
  2. Didi:
    Melalui bab ini, dapat dipelajari bagaiman suatu sifat diwariskan kepada keturunannya. Melalui bab ini, kita dapat memperbaiki mutu genetik suatu makhluk hidup seperti hewan ternak melalui beberapa cara yang telah diuji oleh para ilmuwan.

    BalasHapus
  3. Fidel:
    Bab ini mengajarkan hukum mendel yang merupakan hukum pewarisan sifat. Melalui bab ini kita dapat menghindari pemicu timbulnya penyakit genetik yang diturunkan secara genetik kepada keturunan.

    BalasHapus
  4. Edo:
    Melalui bab ini saya mempelajari perhitungan untuk mencari perbandingan atau persentase suatu keturunan memiliki sifat yang diturunkan oleh kedua induknya.

    BalasHapus
  5. Valerie:
    melalui pembahasan di atas saya mengetahui cara penurunan golongan darah dari kedua induk kepada keturunannya. bab ini memberikan manfaat kepada kita sehingga kita dapat membuktikan induk dari suatu keturunan.

    BalasHapus
  6. Jessica:
    melalui pembahasan di atas saya mempelajari hukum mendel yang telah dibuat oleh Mendel tidaklah kekal dan sempurna. tetap bisa saja terjadi penyimpangan yang disebabkan atau dipengaruhi gen-gen lain.

    BalasHapus